Postingan

“STOP MEMINJAMKAN HATIMU PADA YANG LAIN, TITIPKAN IA PADA ALLAH”

Gambar
Seringkali kita membaca atau mendengar bahwa Allah pasti akan memberi apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Namun, apakah sudah 100% kita meyakininya? Jika sudah, mengapa kita masih seringkali berprotes kepada Allah? Menginginkan seperti yang lainnya, melupakan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Jika sudah, lantas mengapa pula kita masih saja meminjamkan hati kita kepada selain Allah? Hingga lupa bahwa pemilik hati, satu-satunya dzat yang Maha mampu membolak-balikkan hati hanyalah Allah. Dulu atau mungkin hingga sekarang, kita masih mempertanyakan keadaan: Mengapa kita dan dia tidak dimudahkan bersama? Padahal ia orang yang baik, berakhlak baik, berintegritas yang baik pula, yang sepertinya sebanding lurus dengan kita (red. sama-sama sepadan). Jika sudah begitu, mungkin kita melupakan 1 hal. 1 hal yang umum, yang sering ditemukan di qoutes-quotes sosmed maupun didengar , atau justru sering kita ucapkan ketika memberikan saran kepada teman? Ya...

Membangun Cinta, Bersama Siapa?

Gambar
Pernah nggak teman-teman membaca buku “Berjuta Rasanya” karya Tere Liye tepat di sub-bab; “Cintanometer”. Disana jelaskan secara gamblang bahwa Cintanometer adalah alat untuk mendeteksi perasaan cinta lawan jenis terhadap pasangannya. Ini adalah kutipan dari “Berjuta Rasanya; Cintanometer” karya Tere Liye di bawah ini:  “Dewan kota akan menciptakan alat pendeteksi cinta. Sebut sajalah namanya cintanometer. Bentuk fisiknya kurang lebih mirip freehand telepon genggam yang kalian kenal selama ini. Dicantolkan di telinga, dan ia dengan kecanggihannya akan memberitahukan perasaan yang sedang dipikirkan oleh lawan jenis di hadapanmu. Bagaimana caranya? Tidak jelas juga seperti apa. Terlalu rumit untuk dituliskan. Tetapi kurang lebih cintanometer akan mendeteksi gesture tubuh, kadar pheromon, getaran arus listrik yang timbul dari detak jantung pasangan Anda, medan elektromagnetik yang muncul dari sekujur kulitnya, sinyal alpha dari bola matanya, frekuensi dan lamda getaran su...

IPK apakah wajib tinggi???

"IPK apakah wajib tinggi?". nggak kok, nggak wajib karena yg wajib adalah shalat 5 waktu.  Teman-teman, jika memiliki IPK tinggi tentunya suatu kebanggaan tersendiri, memiliki target untuk mencapai IPK tertentu adalah hal yang mungkin saja perlu. Tapi, apakah IPK wajib tinggi? itu pertanyaan yg biasa dijumpai. maka saya akan menjawab begini (maaf karena ini hanya opini pribadi mungkin saja berbeda dengan opini lainnya) . IPK menurut saya adalah sesuatu yang perlu diperjuangkan sesuai dengan kemampuan optimal kita,   sebab IPK adalah "hadiah/apresiasi" kita untuk jerih payah orangtua yg membiayai dan mempercayai kita untuk kuliah. Orangtua kita adalah orang pertama yang layak mendapatkan apresiasi langsung dari kita sebagai anak dan sebagai mahasiswa yang bertanggungjawab atas sponsor terbesar dalam hidup kita, jangan lupakan jika orangtua kita adalah penyokong dana terbesar kita, terutama dalam hal pendidikan. Lantas, apakah IPK harus tinggi? itu...