“STOP MEMINJAMKAN HATIMU PADA YANG LAIN, TITIPKAN IA PADA ALLAH”
Seringkali kita membaca
atau mendengar bahwa Allah pasti akan memberi apa yang kita butuhkan, bukan
yang kita inginkan. Namun, apakah sudah 100% kita meyakininya? Jika sudah, mengapa
kita masih seringkali berprotes kepada Allah? Menginginkan seperti yang
lainnya, melupakan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.
Jika sudah, lantas
mengapa pula kita masih saja meminjamkan hati kita kepada selain Allah? Hingga lupa
bahwa pemilik hati, satu-satunya dzat yang Maha mampu membolak-balikkan hati hanyalah
Allah.
Dulu atau mungkin
hingga sekarang, kita masih mempertanyakan keadaan:
Mengapa kita dan dia
tidak dimudahkan bersama? Padahal ia orang yang baik, berakhlak baik,
berintegritas yang baik pula, yang sepertinya sebanding lurus dengan kita (red.
sama-sama sepadan). Jika sudah begitu, mungkin kita melupakan 1 hal. 1 hal yang
umum, yang sering ditemukan di qoutes-quotes sosmed maupun didengar , atau
justru sering kita ucapkan ketika memberikan saran kepada teman?
Yaitu:
Bahwa Allah tidak memberi
yang kita inginkan, melainkan yang terbaik sesuai dengan apa yang kita
butuhkan.
STAY POSITIVE AND KEEP
GROWING!!!
Terkadang kita
mengharap cahaya, manakala Allah sedang mempersiapkan Pelangi.
Jika ingin mendapatkan
yang baik maka kita tidak boleh berhenti menjadi orang baik. Jika kita
menyadari belum baik, maka sudah saatnya kita berbenah membuka lembaran baru
dan bersiap menjadi diri yang lebih baik.
Meski kita tak pernah
tau, apakah Allah mentakdirkan kita akan lebih dahulu dipertemukan dengan
manusia terbaik pilihannya untuk menyempurnakan kita? Atau justru Allah lebih
dahulu memanggil kita? Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kita mengetahui 1
hal, menjadi baik tidak ada ruginya. Beramal baik akan membersamai kita hingga
waktunya kita berpulang.
Bukankah seharusnya
kita bersyukur, bahwa Allah masih sayang kita?
Maka sudah sepatutnya
kita tidak lagi meminjamkan hati kita pada orang lain, melainkan pada Allah
saja, tanpa yang lainnya.
SELF REMINDER: Allah sayang
engkau, sedangkan Ia tidak ingin engkau hanya mendapat yang baik, namun yang
terbaik dan sesuai dengan apa yang engkau butuhkan, bukan sekadar yang baik
yang engkau inginkan.
Dulu, Dulu sekali Allah
telah mengabadikan informasi yang super penting menjadi self reminder untuk
kita, melalui kisah Asiyah Binti Muzahim, istri Fir’aun.
Asiyah binti Muzahim adalah perempuan Bani Israil
keturunan para nabi. Ia sangat menyayangi orang-orang miskin, ia juga sering
bersedekah kepada mereka. Dalam Tafsir Muroh Labid disebutkan bahwa Asiyah
binti Muzahim mulai beriman setelah mengetahui kisah Nabi Musa As yang mampu
mengalahkan para tukang sihir. Rupanya Allah Swt telah menumbuhkan benih-benih
iman dalam hatinya melalui keinginannya mengambil dan mengasuh Nabi Musa As
yang dihanyutkan di sungai.
Asiyah pun beriman kepada Allah secara diam-diam,
namun lama kelamaan suaminya mengetahui keimanannya. Tetapi bukannya goyah,
keimanan Asiyah justru semakin kuat. Ia lebih memilih disiksa oleh suaminya
dari pada harus mengakui bahwa suaminya adalah tuhan.
Fir’aun pun marah besar, ia memerintahkan para
algojo untuk menyiksa istrinya. Tubuh Asiyah dibaringkan di atas gurun di bawah
terik matahari. Kedua tangannya diikat kuat ke tiang-tiang yang dipatok ke
tanah agar ia tak mampu bergerak. Fir’aun berfikir, istrinya tak akan sanggup
menghadapi siksaan darinya sehingga mau mengubah keimanannya.
Namun Allah Swt tak membiarkan hamba-Nya dalam
kesulitan. Setiap kali algojo meninggalkan Asiyah, para malaikat segera menutup
sinar matahari itu sehingga tempatnya menjadi teduh.
Suatu hari Firaun keluar dan bertanya pada
rakyatnya, apa yang kalian ketahui tentang Asiyah binti Muzahim? Orang-orang
pun memuji kebaikannya, Fir’aun kemudian berkata “Sesungguhnya ia menyembah
tuhan selainku”. Mereka menjawab “Kalau begitu bunuhlah dia”. Maka Fir’aun pun
mendirikan pasak-pasak dari besi dan mengikat kedua tangan dan kaki istrinya.
Setelah itu, Asiyah disiksa di bawah terik matahari gurun pasir.
Di tengah siksaan yang dilimpahkan kepadanya,
Asiyah berdoa “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu
dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan
selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.”
Maka Allah Swt mengabulkan doanya,
diperlihatkanlah rumah dari mutiara putih untuknya di surga kelak. Melihat hal
tersebut, Asiyah pun tertawa. Fir’aun heran terhadap tingkah istrinya dan
berkata “Apa kalian tidak heran dengan kegilaannya? Kami menyiksanya tetapi ia
malah tertawa”.
Lalu Allah Swt mencabut nyawa Asiyah saat
tubuhnya dibaringkan di atas padang pasir sehingga ia tidak merasakan rasa
sakit dari siksaan raja yang zalim tersebut (Nazilah, 2017).
Mungkin itulah mengapa,
Allah mentakdirkan Asiyah binti Muzahim menjadi istri Fir’aun. Padahal, jika
kita berfikir menurut kita “mengapa Allah menghendakinya menjadi istri Fir’aun
yang kejam? Sedangkan ia adalah wanita yang baik? Bukankah Allah telah
menjanjikan bahwa perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, begitupun
sebaliknya?”
Itu logika kita yang
terbatas. Namun Allah sang penulis skenario terbaik lebih mengetahui yang tidak
kita ketahui.
Ia dikehendaki menjadi
perempuan yang baik dengan kesabaran yang luar biasa, dan diuji melalui Fir’aun
sebab Allah ingin memuliakannya dengan meninggikan derajatnya kelak, ia
diberikan ujian yang dahsyat dan Allah menyayanginya, kemudian Allah menjadikannya
sosok perempuan mulia ahli surga.
“Dan Allah membuat isteri
Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya
Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan
selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari
kaum yang zhalim.’ (QS at-Tahrim ayat 11)
Jadi, Bagaimana? Apakah
masih ingin meminjamkan hati kita kepada selain Allah? Yang sudah jelas bahwa kita
maupun orang tersebut tidak dapat menjamin akan mampu menjaga hati kita. Hati kita
hanya satu, jika sudah tersakiti karena meminjamkannya kepada yang lain? Maka mengapa
masih menunggu orang yang berbeda lagi untuk kita pinjami hati kita?
Titipkan hati kita
kepada Allah, sang pemilik hati, sang pembolak-balik hati.
Kelak, diwaktu yang
telah Allah janjikan, Allah akan hadirkan sosok manusia terbaik untuk kita,
yang telah lama Allah siapkan agar bersama-sama menjaga hati, memuliakan cinta,
menyempurnakan agama untuk Allah semata
Maka tidak akan sulit
bagi Allah untuk memberikan rasa cinta diantara keduanya meski sebelumnya tidak
pernah ada, pun tidak sulit bagi Allah untuk memalingkan rasa diantara keduanya
meski sebelumnya pernah ada.
Sebab Allah ingin
memberikan kita yang terbaik sesuai kebutuhan kita, bukan sekadar yang terbaik
yang hanya memuaskan keinginan kita.
So,
STOP meminjamkan hatimu
pada yang lainnya, titipkan ia pada Allah semata.


Komentar
Posting Komentar