Pneumonia
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pnueumonia merupakan suatu radang paru yang
disebabkan oleh bemacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur, dan benda
asing. Tubuh mempunyai daya tahan yang beguna untuk melindungi dari bahaya
infeksi melalui mekanisme daya tahan traktus respiratoris. Anak dengan daya
tahan terganggu akan menderita pneumonia berulang atau tidak mampu mengatasi
penyakit ini dengan sempurna. Faktor lain yang memperngaruhi timbulnya
pneumonia ialah daya tahan tubuh yang menurun misalnya akibat Malnutrisi Energi
Protein (MEP), penyakit menahun, trauma pada paru, anestesia, aspirasi dan
pengobatan dengan antibiotik yang tidak sempurna.
(Ngastiyah, 2005 : 57)
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa etiologi pneumonia?
2.
Bagaimana prevalensi pneumonia?
3.
Apa definisi pneumonia?
4.
Bagaimana faktor resiko
pneumonia?
5.
Bagaimana patofisiologi
pneumonia?
6.
Bagaimana klinis dan gejala
pneumonia?
7.
Apa saja komplikasi yang bisa
terjadi pada pneumonia?
C.
Tujuan
Untuk mengetahui etiologi, prevalensi, definisi, faktor
resiko, patofisiologi, klinis dan gejala serta komplikasi dari pneumonia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Etiologi Pneumonia
Pada masa sekarang terjadi perubahan pola
mikroorganisme penyebab ISNBA (Infeksi Saluran Napas Bawah Akut) akibat adanya
perubahan keadaan pasien seperti gangguan kekebalan dan penyakit kronik, polusi
lingkungan, dan penggunaan antibiotik yang tidak tepat hingga menimbulkan
perubahan karakteristik pada kuman. Etiologi pneumonia berbeda-beda pada
berbagai tipe dari pneumonia, dan hal ini berdampak kepada obat yang akan di
berikan. Mikroorganisme penyebab yang tersering adalah bakteri, yang jenisnya
berbeda antar Negara, antara suatu daerah dengan daerah yang lain pada suatu
Negara, maupun bakteri yang berasal dari lingkungan rumah sakit ataupun dari
lingkungan luar. Karena itu perlu diketahui dengan baik pola kuman di suatu
tempat.
Pneumonia yang disebabkan oleh infeksi antara lain :
1.
Bakteri
Agen penyebab
pneumonia di bagi menjadi organisme gram-positif atau gram-negatif seperti :
Steptococcus pneumoniae (pneumokokus), Streptococcus piogenes, Staphylococcus
aureus, Klebsiela pneumoniae, Legionella, hemophilus influenzae.
2.
Virus
Influenzae virus,
Parainfluenzae virus, Respiratory, Syncytial adenovirus, chicken-pox (cacar
air), Rhinovirus, Sitomegalovirus, Virus herves simpleks, Virus sinial
pernapasan, hantavirus.
3.
Fungsi
Aspergilus, Fikomisetes,
Blastomises dermatitidis, histoplasma kapsulatum.
Selain disebabkan oleh infeksi, pneumonia juga bisa di
sebabkan oleh bahan-bahan lain/non infeksi :
1.
Pneumonia Lipid : Disebabkan
karena aspirasi minyak mineral
2.
Pneumonia Kimiawi : Inhalasi
bahan-bahan organik dan anorganik atau uap kimia seperti berillium
3.
Extrinsik allergic alveolitis :
Inhalasi bahan debu yang mengandung alergen seperti spora aktinomisetes
termofilik yang terdapat pada ampas debu di pabrik gula
4.
Pneumonia karena obat :
Nitofurantoin, busulfan, metotreksat
5.
Pneumonia karena radiasi
6.
Pneumonia dengan penyebab tak
jelas. (Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru, 2006)
Pada bayi dan anak-anak penyebab yang paling sering
adalah:
1. virus sinsisial pernafasan
2. adenovirus
3. virus parainfluenza
4. virus influenza
Adapun cara mikroorganisme itu sampai ke paru-paru bisa
melalui :
1. Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang
tercemar
2. Aliran darah, dari infeksi di organ tubuh yang lain
3. Migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi
di dekat paru-paru.
Suatu penyakit infeksi pernapasan dapat terjadi akibat adanya
serangan agen infeksius yang bertransmisi atau di tularkan melalui udara. Namun
pada kenyataannya tidak semua penyakit pernapasan di sebabkan oleh agen yang
bertransmisi denagan cara yang sama. Pada dasarnya agen infeksius memasuki
saluran pernapasan melalui berbagai cara seperti inhalasi (melaui udara),
hematogen (melaui darah), ataupun dengan aspirasi langsung ke dalam saluran
tracheobronchial. Selain itu masuknya mikroorganisme ke dalam saluran
pernapasan juga dapat di akibatkan oleh adanya perluasan langsung dari tempat
tempat lain di dalam tubuh. Pada kasus pneumonia, mikroorganisme biasanya masuk
melalui inhalasi dan aspirasi.
Dalam keadaan sehat pada paru tidak akan terjadi pertumbuhan
mikroorganisme, keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan paru.
Terdapatnya bakteri di dalam paru merupakan ketidakseimbangan antara daya tahan
tubuh, sehingga mikroorganisme dapat berkembang biak dan berakibat timbulnya
infeksi penyakit.
Sekresi
enzim – enzim dari sel-sel yang melapisi trakeo-bronkial yang bekerja sebagai
antimikroba yang non spesifik. Bila pertahanan tubuh tidak kuat maka
mikroorganisme dapat melalui jalan nafas sampai ke alveoli yang menyebabkan
radang pada dinding alveoli dan jaringan sekitarnya. Setelah itu mikroorganisme
tiba di alveoli membentuk suatu proses peradangan yang meliputi empat stadium,
yaitu :
1.
Stadium I (4 – 12 jam pertama/kongesti)
Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan
yang berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan
peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Hiperemia
ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator peradangan dari sel-sel mast
setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan. Mediator-mediator tersebut
mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel mast juga mengaktifkan
jalur komplemen. Komplemen bekerja sama dengan histamin dan prostaglandin untuk
melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan permeabilitas kapiler paru.
Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstisium
sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus. Penimbunan
cairan di antara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh
oleh oksigen dan karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah paling
berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin.
2. Stadium II (48 jam
berikutnya)
Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi
oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu ( host )
sebagai bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh
karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna paru
menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini udara alveoli
tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan bertambah sesak, stadium ini
berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48 jam.
3. Stadium III (3 – 8
hari)
Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah
putih mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin
terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa
sel.
Pada
stadium ini eritrosit di alveoli mulai diresorbsi, lobus masih tetap padat
karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler
darah tidak lagi mengalami kongesti.
4. Stadium IV (7 – 11 hari)
Disebut
juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda,
sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh makrofag sehingga
jaringan kembali ke strukturnya semula.
Penyakit
pneumonia sebenarnya merupakan manifestasi dari rendahnya daya tahan tubuh
seseorang akibat adanya peningkatan kuman patogen seperti bakteri yang
menyerang saluran pernapasan. Selain adanya infeksi kuman dan virus, menurunnya
daya tahan tubuh dapat juga di sebabkan karena adanya tindakan endotracheal dan
tracheostomy serta konsumsi obat obatan yang dapat menekan refleks batuk
sebagai akibat dari upaya pertahanan saluran pernapasan terhadap serangan kuman
dan virus.
B.
Prevalensi
Pneumonia
Di negara-negara
berkembang, termasuk Indonesia Pneumonia merupakan
penyebab kematian terbesar yang
menyerang anak-anak dan balita. Angka kematian
Pneumonia pada balita di Indonesia diperkirakan mencapai 21 %. Hampir 1,5 juta
anak di bawah lima tahun meninggal akibat penyakit itu setiap tahunnya Adapun
angka kesakitan diperkirakan mencapai 250 hingga 299 per 1000 anak balita
setiap tahunnya. Di Indonesia angka balita yang terkena pneumonia pada tahun
2008 yaitu 66 per 1000 anak. Dan pada tahun 2009, pneumonia ini menyebabkan
kematian balita di Indonesia sebesar 39 per 1000 anak balita. Fakta yang sangat
mencengangkan. Karenanya, kita patut mewaspadai setiap keluhan panas, batuk,
sesak pada anak dengan memeriksakannya secara dini. (UNICEF, 2011)
Dari data Dinas Kesehatan pada tahun
2007, menunjukkan bahwa jumlah balita penderita Pneumonia di kota medan dari
kasus yang terjadi si Puskesmas dan Rumah Sakit adalah sebanyak 7.713 balita
dan telah di tangani sebanyak 7.713. (Profil Dinas Kesehatan Kab/Kota tahun
2007)
Anak yang menderita Pneumonia, paru
mereka menjadi kaku, sehingga tubuh bereaksi dengan bernafas cepat, agak tidak
terjadi hipoksia (kekurangan oksigen). Apabila Pneumonia bertambah parah, paru
akan bertambah kaku dan timbul tarikan dinding dada kedalam. Anak dengan
pneumonia dapat meninggal karena hipoksia atau sepsis (infeksi umum). (Depkes,
2008)
C.
Definisi Pneumonia
Pneumonia adalah inflamasi akut pada
parenkim paru. Inflamasi ini disebabkan oleh sebagian besar oleh mikroorganisme
(virus atau bakteri) dan sebagian kecil oleh hal lain sepertiaspirasi dan
radiasi (Said, 2008; Sectish and Prober, 2007).
Pneumonia merupakan radang paru yang
disebabkan mikroorganisme(bakteri, virus, jamur,dan parasit). Proses peradangan
akan menyebabkan jaringan paru yang berupa aveoli(kantung udara) dapat dipenuhi
cairan ataupun nanah. Akibatnya kemampuan paru sebagaitempat pertukaran gas
(terutama oksigen) akan terganggu. Kekurangan oksigen dalam sel-seltubuh akan
mengganggu proses metabolisme tubuh. Bila pneumonia tidak ditangani dengan
baik, proses peradangan akan terus berlanjut dan menimbulkan berbagai
komplikasi seperti,selaput paru terisi cairan atau nanah (efusi pleura atau
empiema), jaringan paru bernanah(abses paru), jaringan paru kempis
(pneumotoraks) dan lain-lain. Bahkan bila terus berlanjutdapat terjadi
penyebaran infeksi melalui darah (sepsis) ke seluruh tubuh sehingga
dapatmenyebabkan kematian. Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan paru-paru
meradang. Kantong-kantong udara dalam paru yang disebut alveoli dipenuhi nanah
dan cairan sehingga kemampuan menyerapoksigen menjadi kurang. Kekurangan
oksigen membuat sel-sel tubuh tidak bisa bekerja.Karena inilah, selain
penyebaran infeksi ke seluruh tubuh, penderita pneumonia bisameninggal.
Sebenarnya pneumonia bukanlah penyakit tunggal. Penyebabnya bisa bermacam-macam
dan diketahui ada 30 sumber infeksi dengan sumber utama bakteri,
virus,mikroplasma, jamur, berbagai senyawa kimia maupun partikel.Pneumonia
adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli).
Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut
pada bronkus (biasadisebut bronchopneumonia). Gejala penyakit ini berupa napas
cepat dan napas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas napas cepat
adalah frekuensi pernapasan sebanyak 50kali per menit atau lebih pada anak usia
2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali per menit atau lebih pada anak
usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pada anak dibawah usia2 bulan, tidak
dikenal diagnosis pneumonia.
D.
Faktor Resiko Pneumonia
Faktor faktor resiko
kesakitan (morbiditas) pneumonia adalah antara lain umur, jenis kelamin, gizi
kurang, riwayat BBLR, pemberian ASI yang kurang, defesiensi Vit A, status
imunisasi, polusi udara, ventilasi rumah dan pemberian makanan yang terlalu
dini.
a.
Umur
Umur merupakan salah satu faktor
resiko utama pada beberapa penyakit. Hal ini di sebabkan karena umur dapat
memperlihatkan kondisi kesehatan
seseorang. Anak anak yang berumur 0-24 bulan lebih rentan terhadap penyakit
pneumonia di bandingkan anak anak yang berumur di atas 2 tahun. Hal ini di
sebabkan karena imunitas yang belum sempurna dan lubang pernapasan yang relatif
sempit.
b.
Jenis kelamin
Penelitian di Uruguay menunjukkan
bahwa pada tahu 1997-1998, 58% penderita pneumonia yang di rawat di RS adalah
laki laki.
c.
Riwayat BBLR
Bayi dengan BBLR beresiko mengalami
kematian akibat pneumonia, hal ini di sebabkan karena zat anti kekebalan di
dalam tubuhnya belum sempurna sehingga memiliki resiko yang lebih besar untuk
menderita pneumonia.
d.
Pemberian ASI
ASI mengandung nutrisi dan zat zat
penting yang berguna terhadap kekebalan tubuh bayi. Oleh sebab itu, sangat
penting bagi bayi untuk segera di berikan ASI sejak lahir karena pada saat itu
bayi belum dapat memproduksi kekebalannya sendiri.
Pemberian ASI ternyata dapat menurunkan resiko pneumonia
pada bayi dan balita. Penelitian di Rwanda melaporkan bahwa bayi yang di rawat
di rumah sakit karena pneumonia lebih beresiko pada bayi yang tidak memperoleh
ASI.
e.
Status Gizi
f.
Status Imunisasi
Pada dasarnya beberapa penyakit
penyakit infeksi yang terjadi pada anak anak dapat di cegah dengan imunisasi.
Yaitu antara lain ; difteri, pertusis, tetanus, hepatitis, tuberkulosis, campak
dan polio. Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa pneumonia juga merupakan
penyakit yang dapat di cegah melalui pemberian imunisasi yaitu dengan imunisasi
campak dan pertusis. Penyakit pertusis berat dapat menyebabkan infeksi saluran
napas berat seperti pneumonia. Oleh karena itu pemberian imunisasi DPT dapat
mencegah pneumonia.
g.
Defesiensi Vit A
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa
pemberian Vit A berguna dalam mengurangi beratnya penyakit dan mencegah
terjadinya kematian akibat pneumonia. Pemberian Vit A di khususkan pada balita
berumur 6 bulan sampai 2 tahun yang di rawat di RS karena campak dan komplikasi
pneumonia. Oleh karena itu jika anak menderita pneumonia tetapi telah
memperoleh Vit A sebelumnya dalam jangka waktu tertentu, maka anak tersebut
tidak akan menderita pneumonia berat dan dapat mencegah mortalitas.
E.
Patofisiologi Pneumonia
Ketika mikroorganisme penyebab pneumonia
berkembang biak, mikroorganisme tersebut mengeluarkan toksin yang mengakibatkan
peradangan pada jaringan paru yang dapat menyebabkan kerusakan pada membran
mukus alveolus. hal tersebut dapat memicu perkembangan edema paru dan
eksudat yang mengisi alveoli sehingga mengurangi luas permukaan alveoli untuk
pertukaran karbon dioksida dan oksigen. Peradangan mungkin terfokus hanya pada
satu lobus atau tersebar di beberapa bagian paru, jika hanya terfokus
pada satu lobus disebut lobar pneumonia. Sedangkan secara umum, pneumonia
yang lebih serius disebut bronchopneumonia yang lebih sering terjadi akibat
infeksi nosokomial pada pasien yang mengalami hospitalisasi (Linda S. Williams
& Paula D, 2007).
Bakteri penyebab terisap perifer melalui
saluran nafas menyebabkan reaksi jaringan berupa edema, yang mempermudah
poliferasi dan penyebaran kuman. Bagian paru yang terkena mengalami
konsolidasi, yaitu terjadinya serbukan sel PMN (polimorfonuklear), febrin,
eritrosit, cairan edema dan kuman di alveoli dan proses fagositosis yang cepat.
Dilanjutkan stadium resolusi, dengan peningkatan jumlah sel makrofag di
alveoli, degenerasi sel dan menipisnya fibrin, serta menghilangnya kuman dan
debris.
Proses kerusakan yang terjadi dapat dibatasi
dengan pemberian antibiotik sedini mungkin agar sistem bronkopulmonal yang tidak
terkena dapat diselamatkan. (Mansjoer, 2000 : 466)
F.
Klinis Dan Gejala Pneumonia
-
Klinis
1.
Manifestasi non spesifik dan
toksitas berupa demam, sakit kepala, iritabel, gelisah, malaise, nafsu makan
kurang, keluhan gastrointestinal.
2.
Gejala umum saluran pernapasan
bawah berupa batuk, takipnu, ekspektorasi sputum, nafas cuping hidung, sesak
nafas, air hunger, merintih dan sianosis.
3.
Retraksi (penarikan dinding
dada bagian bawah ke dalam saat bernafas bersama dengan peningkatan frekuensi
nafas) perkusi pekak, fermitus melemah, saluran nafas melemah, dan ronki.
4.
Tanda efusi pleura atau empiema
berupa gerak ekskrusi dada tertinggal di daerah efusi, perkusi pekak, fremitus
melemah, suara nafas tubeler tepat di atas batas cairan, friction rub, nyeri
dada, kaku kuduk/meningimus.
5.
Tanda infeksi ekstrapulmonal.
(Mansjoer, 2000 :
466)
-
Gejala pada pneumonia adalah
antara lain :
a.
Kesulitan dan sakit pada saat
bernapas : nyeri pleuritik, nafas dangkal dan mendengkur, tachipnoe.
b.
Bunyi nafas di atas area yang
mengalami konsolidasi : mengecil, kemudian menjadi hilang, ronchi
c.
Gerakan dada tidak simetris
d.
Menggigil dan demam 38,8’C
sampai 41,1’C
e.
Diaforesis
f.
Anoreksia
g.
Malaise
h.
Batuk kental, produktif :
sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau berkarat
i.
Gelisah
j.
Cyanosis
k.
Masalah masalah psikososial :
disorientasi dan anxietas
G.
Komplikasi Pneumonia
1.
Pneumothorax
Udara dari alveolus
yang pecah di sebabkan karena sumbatan atau peradangan di saluran bronkioli
yang membuat udara bisa masuk namun tidak bisa keluar. Lambat laun alveolus
menjadi penuh sehingga tak kuat menampung udara dan pecah.
2.
Empiyema (peradangan di paru)
Peradangan terjadi
karena kuman atau bakteri berhasil di lokalisasi oleh pertahanan tubuh namun
tidak dapat di basmi akhirnya muncul nanah dan mengumpul di antara paru paru
dan dinding dada.
3.
Gagal nafas
4.
Perikarditis
5.
Meningitis
6.
Hipotensi
7.
Delirium
8.
Asidosis metabolik
9.
Dehidrasi
H.
Penanganan Fisioterapi
1.
Deep breathing exercise atau
expansi breathing exercise secara lokal pada area paru-paru yang terlibat
dengan tujuan untuk memperbaiki ventilasi alveolar dan ventilasi pulmonal,
serta meningkatkan kekuatan otot-otot pernapasan.
2.
Postural drainage yang disertai
dengan perkusi dan vibrasi pada area paru-paru yang terlibat untuk melepaskan
sekresi.
3.
Batuk yang efektif untuk
mengeluarkan sekresi atau sputum.
4.
Terapi Humidifikasi mungkin
diperlukan untuk mencairkan sekresi didalam area paru-paru.
5.
Latihan aktif mobilitas thoraks
yang disertai dengan gerakan extremitas superior untuk meningkatkan mobilitas
thoraks.
6.
Latihan berjalan dengan jarak
mulai jarak yang pendek dan ditingkatkan jaraknya secara bertahap.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Pneumonia adalah salah satu penyakit
akibat infeksi parenkim paru yang dapat menyerang setiap usia. Pneumonia adalah
suatu penyakit yang disebapkan oleh infeksi bakteri Streptococus pneumoniae
dengan tanda gejala yang akan muncul adalah demam, batuk, sesak napas, dan
terkadang disertai dengan nyeri dada.
Penatalaksanaan medis yang dilakukan
pada pasien pneumonia dalah pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi oleh
bakteri dan pemberian antipiretik untuk mengatasi suhu tubuh yang tinggi.
Selain itu pemeriksaan penunjang juga perlu dilakukan untuk melihat daerah paru
yang terkena infeksi, dan mengetahui apakah ada komplikasi lain yang dapat
disebapkan oleh penyakit ini.
B.
Saran
Mengingat pneumonia adalah penyakit yang
menyerang salah satu sistem vital tubuh yaitu sistem respirasi, maka penting
untuk diberikan penanganan sesegera mungkin dan setepat mungkin untuk
menghindari keadaan fatal pada pasien pneumonia. Pendidikan kesehatan juga
penting untuk diberikan kepada pasien maupun keluarganya untuk menghindari
komplikasi dan terulangnya kejadian yang sama.
DAFTAR PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar